Misteri Rumah Tertawa: Petualangan Seru di Tengah Hutan Kalimantan

Misteri Rumah Tertawa

Judul: Misteri Rumah Tertawa

Penulis: Wini Afiati

Penerbit: Ihsan Media Penerbit

248 hlm.

Cetakan 1, 2021

 

“Bayangan itu samar memancarkan cahaya. Sosoknya bergoyang-goyang seperti kabut. Namun, semakin lama bentuk sosok itu semakin jelas, Menyerupai sosok pria berjubah panjang. Hanya dalam beberapa detik, sebuah suara mengerikan yang menyerupai tawa terdengar. Suara itu membuat Will dan Nara menjerit kaget.”

Prolog yang keren banget ya dari novel Misteri Rumah Tertawa karya Kak Wini Afiati. Eh, judulnya aja udah bikin penasaran. Rumah kok, bisa tertawa?

Kak Wini sekali lagi mengajak kita semua bertualang bersama Will dan Way. Kali ini ke Kalimantan, tepatnya Pontianak, Kalimantan Barat. Buat kalian yang belum kenalan sama Will dan Way (ish, kebangetan amat deh!), dua anak kembar ini adalah petualang cilik yang sudah menjelajah beberapa tempat di Indonesia. Silakan cari buku-bukunya yang terdahulu, yaitu Misteri Hilangnya Penyu di Pulau Venu dan Penyelamatan Kimaya. Di dua buku itu, Will dan Way bertualang ke Pulau Venu, Papua Barat dan Desa Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Wah, asyik yaaa … jalan-jalan terus niih, Will dan Way!

Will tuh, anaknya suka membaca, penuh perhitungan dan pertimbangan sebelum memutuskan sesuatu. Berbeda dengan Way yang tidak sabaran dan lebih suka cepat beraksi. Meski berbeda sifat, mereka ternyata ternyata saling mengisi.

Di Pontianak, Will dan Way menginap di rumah sepupu mereka yang bernama Nara. Saat hendak main ke Taman Digulis, ketiga anak itu melewati sebuah rumah tua yang tampak kosong. Kata Nara, rumah itu berhantu. Dasar Way dong, pasti langsung ingin menyelidiki. Rasa ingin tahu anak-anak itu dihalangi oleh dua orang laki-laki yang berkata bahwa rumah itu berbahaya. Ini malah bikin ketiga anak itu tambah penasaran. Mereka bertiga sepakat untuk pergi ke rumah itu lagi malam harinya. Di sana mereka disambut oleh suara tawa yang mengerikan dan menemukan sehelai bulu misterius.

Suara mengerikan gimana? Bulu apa, sih? Bikin deg-degan aja, ih.

Will dan Way juga pergi ke Taman Nasional Danau Sentarum bersama Nara dan ayahnya Nara. Nara hendak menari di Festival Danau Sentarum, sementara Ayah Nara akan meneliti burung enggang gading di kawasan konservasi. Bayangkan betapa kagetnya Will, Way dan Nara saat melihat bahwa satu dari dua laki-laki yang mereka temui di rumah berhantu adalah rekan kerja ayahnya Nara!

Kak Wini juga jago meramu pengetahuan dalam novel-novel anak. Asyiknya, pengetahuan itu enggak bikin kita kayak baca buku pelajaran di sekolah, loh. Dari novel Misteri Rumah Tertawa ini, aku jadi tahu bahwa burung enggang gading alias rangkong ini adalah maskot Kota Pontianak. Aku juga jadi lebih mengenal cara hidup suku Dayak Iban, suku asli Kalimantan Barat dan kebiasaan-kebiasaan juga makanan-makanan khasnya. Will dan Way kan, sempat tinggal di Rumah Betang, rumah adat suku Dayak Iban. Seru banget!

Buku yang penuh informasi menarik untuk anak

Kembali ke laptop, eh ke novel yaa …

Membaca Misteri Rumah Tertawa ini seperti membuka paket komplet hidangan literasi anak. Selain bisa menikmati keindahan Danau Sentarum yang digambarkan dengan sangat baik, kita juga merasakan keseruan dan ketegangan petualangan Will dan Way di tengah rimba Kalimantan.

Hanya satu kekurangan yang kudapat di novel ini. Aku merasa author lebih sayang pada Way daripada Will, wkwkwk … padahal kan, mereka berdua adalah tokoh utama. Aku lebih banyak melihat porsi dan aksi Way di cerita. Mungkin memang manusiawi begitu, ya. Kita biasanya memang lebih perhatian sama anak yang aktif dibanding sama anak yang cool ajah. Way … jelas dia anak yang aktif bingits!

Aku kayaknya enggak menemukan saltik deh, di novel ini, jadi aku acungkan jempol untuk penyuntingan naskahnya. Kalau boleh aku kasih rate novel ini, ada di nilai 8/10. Keren!

Overall, aku merekomendasikan banget novel Misteri Rumah Tertawa sebagai bacaan bermutu untuk anak-anak Indonesia. Bravo, Kak Wini!

Miniatur Cinta dalam Botol Kaca: Travel of the heart

Miniatur Cinta dalam Botol kaca

Judul: Miniatur Cinta dalam Botol Kaca

Penulis: Dian Onasis

Penerbit: LovRinz Publishing

viii+185 halaman

Cetakan 1, Oktober 2021

 

Buku yang sangat cocok untuk para pencinta laut dan pelayaran.

Itu pikiran yang pertama kali muncul di pikiranku saat selesai membaca buku Miniatur Cinta dalam Botol Kaca (selanjutnya aku sebut Miniatur Cinta aja yaaa). Mungkin agak sedikit sentimental dan personal, karena aku sangaaaat suka laut dan dulu pernah bercita-cita masuk sekolah pelayaran. Aku suka pergi ke tempat-tempat jauh. Kubayangkan, dengan berlayar aku akan bisa berdiri di haluan atau buritan, saat laut tenang di bawah langit malam bertabur bintang, menuju tempat yang sama sekali baru. Duh … romatis sekali, kaaan?

Eits, ayo kembali ke Miniatur Cinta!

Aku akan membahas cover-nya dulu. Cantik dan unik! Bravo Mbak Dy! Cover ini pastinya langsung memberi kesan bahwa isi buku ini erat kaitannya dengan perjalanan kapal laut.

Buku ini berkisah tentang perjalanan yang ditempuh oleh seorang gadis bernama Talitha Altair Deanda alias Dea. Bolehkah kubilang, bukan sembarang perjalanan? Dari awal Dea memang punya maksud dan tujuan jelas untuk perjalanannya, yaitu menyusuri masa lalu. Namun tak dinyana, perjalanan ini juga ternyata menentukan masa depannya.

Dea ini gadis kuliahan yang strong (too strong to my liking, actually … hehehe) yang berasal dari keluarga sederhana. Dia dapat kesempatan untuk ikut program pertukaran mahasiswa ke Korea dan menjalani pelatihan di kapal pesiar. Vito, pacar Dea yang kaya dan posesif, tidak membolehkannya pergi jauh-jauh. Dea keukeuh ingin pergi, karena selain kesempatan ini sangat jarang ada dan sulit didapat, gadis ini punya misi khusus yang hanya bisa dijalankannya lewat perjalanan ini: mencari Ayah kandungnya yang hilang tak tentu kabar bertahun-tahun lampau. Di kapal pesiar, Dea bertemu dengan Pinzon, mualim tiga ganteng yang ternyata memegang petunjuk penting yang berkaitan dengan misinya itu.

Apakah Dea berhasil menyelesaikan misinya? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Vito dan Pinzon?

Bikin penasaran, kaan?

Setelah kubaca tuntas tas tas tasss, berikut beberapa kelebihan buku ini:

Penokohan yang kuat

Miniatur Cinta punya tokoh dan karakter yang kuat. Aku bisa merasakan karakter Dea yang keras kepala dan agak terlalu logis (ini mirip siapa yaaa, ahaha … colek penulisnya aka. Uni Dian Onasis … hehehe), Vito yang klemer-klemer dan Pinzon yang cool dan penuh percaya diri.

Saat Dea bikin tabel pro dan kontra untuk mengatasi kegalauan hatinya, ini bikin aku meringis dan geleng-geleng kepala. O my god, dia beda dari gadis biasa! Namun, ada beberapa hal yang bikin sebel dari dia. Dea tuh, hmmm … dia ‘membuka kedua tangan’nya. Gemes aku.

Latar belakang Vito sangat kuat, sangat bisa jadi alasan untuk membuatnya jadi  … Vito, ahaha.

Kupikir-pikir, tokoh yang paling kusuka di buku ini adalah Pinzon. Cuma cowok ini yang benar-benar kukuh bagai batu karang. Dia tahu pasti apa yang ingin dilakukannya dalam hidup, dan dengan kalem berjuang mendapatkannya. Kalemnya Pinzon tuh, maju terus pantang mundur gitu loohh.

Setting yang mantap

Kalau kubilang dulu aku pernah punya angan-angan untuk berlayar jauh, nah, setidaknya lewat buku ini rasa penasaranku tentang gimana sih kehidupan di kapal bisa terjawab. Uni Dian mendeskripsikan suasana di kapal dengan sangat baik. Kamar Ocean View Stareroom tempat Dea tinggal, perbedaan jenis dining room di kapal pesiar, job desk Pinzon sebagai mualim tiga, terjalin mulus dalam cerita. Jelas sekali bahwa penulis tahu betul seluk beluk kehidupan pelayaran. Aku bahkan bisa ikut merasakan derita Dea dan Aura yang gampang mabok laut (nah, ketauan ya kenapa akhirnya aku enggak jadi studi pelayaran, wkwk). Dua jempol untuk setting!

Jalan cerita yang bikin pembaca menebak-nebak

Prolognya OK dan membuat aku penasaran untuk lanjut baca halaman selanjutnya. Apaan sih, Map? Hehehe … Aku juga benar-benar dibuat penasaran dengan apa yang terjadi pada Ayah Dea. Hubungan orangtua-anak ini memang sesuatu yang paling bisa membuat hatiku tergetar. Dea, juga keluarganya, sangat pantas mendapatkan closure yang baik.

Prolog yang menarik dari Miniatur Cinta dalam Botol Kaca

Aku mencoba fair, jadi aku sertakan yang kurasakan sebagai kekurangan buku ini yaa.

Kurasa, Uni Dian kurang kuat membangun konflik di area love triangle, hehe … Entah mengapa, aku merasa bahwa Uni Dian sengaja membuat salah satu pihak sengaja lebih lemah dari yang lainnya, meski memang ada alasan kenapa dia punya sifat seperti itu. Mungkin untuk bisa membuatnya bertumbuh di akhir cerita. Namun, jika saja pihak-pihak itu sama kuatnya, tentu konflik love triangle akan lebih seru.

Kekurangan lainnya hanya masalah minor, seperti typo dan missed-editing. Tidak mengganggu jalan cerita meski tentu saja menarik perhatian mataku.

Overall, Miniatur Cinta seru dibaca. Uni Dian Onasis cukup sukses menuliskan buku romans dewasa pertamanya. Buat para penyuka cerita perjalanan dan romans tipis-tipis, buku ini recommended banget!

Keberagaman Budaya di Misteri Naga yang Hilang

Misteri Perahu Naga – Lia Heliana

Judul: Misteri Perahu Naga

Penulis: Lia Heliana

Penerbit: Pena Nahwa Publisher

Cetakan 1, Oktober 2021

viii + 131 halaman

 

Di kejauhan nampak sosok ular naga yang begitu besar dengan badan licin berwarna kelabu, tubuhnya naik turun di atas riak sungai. Memei menggengam lengan Gisca. Sementara Afif dan Halim ternganga melihat pemandangan itu (hal. 40).

Wah, apa benar naga–makhluk mitos yang konon hidup di zaman dahulu– masih ada di zaman now? Muncul di Sungai Cisadane yang penuh orang-orang pula?

Itulah yang dihadapi oleh Afif, Halim, Gisca dan Memei di novel anak Misteri Perahu Naga. Afif adalah anak asli Banten dan Halim anak keturunan Tionghoa. Keduanya sama-sama pintar dan berprestasi di sekolah.

Buku ini asyik dibaca sejak halaman pertama. Penulis langsung mengajak pembaca masuk ke dunia ceria anak-anak yang penuh persaingan, tetapi disajikan dengan gaya dan bahasa penuh canda.

Persaingan dua anak cowok ini keren, karena dilakukan dalam hal yang positif. Yess, Afif dan Halim selalu bersaing untuk mendapatkan peringkat terbaik di kelas dan juga lomba-lomba sekolah.

Lalu bagaimana saat wali kelas mereka malah menempatkan keduanya dalam kelompok yang sama untuk mengerjakan tugas sekolah?

Mereka tetap bersaing dong, tetapi juga sepakat bahwa tugas sekolah yang paling utama. Bersama Gisca, teman mereka yang tidak berpihak baik pada Afif maupun Halim, mereka setuju untuk mengulas Festival Cisadane, dengan acara utamanya adalah lomba perahu naga atau Peh Cun.

Nah, satu ciri khas dari tulisan Lia Heliana adalah, buku-bukunya selalu memberikan tambahan pengetahuan dengan cara yang smooth. Demikian juga dengan novel Misteri Perahu Naga ini.

Dari buku ini, aku orang Bogor yang jarang jalan-jalan bisa tahu tentang  Pecinan-nya Banten yaitu kawasan Pasar Lama Tangerang. Aku bayangkan ini mungkin sama dengan kawasan Pasar Bogor/Surya Kencana, dekat gerbang utama Kebun Raya Bogor.

Jangan salah, sejarah Festival Perahu Naga disampaikan oleh penulis lewat kisah misteri yang seru, jadi jangan bayangkan kayak di buku pelajaran sejarah yaa. Duh, kalau saja pelajaran sejarah disajikan dengan cara seasyik di novel Misteri Perahu Naga, aku kayaknya bakalan suka deh, pelajaran yang dulu sempat bikin aku empet itu, wkwkwk. Aku tuh, paling susah mengingat tanggal dan peristiwa. Baca buku sejarah tuh, udah ngeri aja bawaannya. Namun, beda sama baca novel anak ini. Bacanya seruuu!

Dalam rangka mencari data untuk tugas sekolah, Afif, Halim, dan Gisca menemui Memei. Sepupu Halim yang tinggal di Kawasan Pasar Lama Kota Tangerang ini mengantarkan ketiga anak itu ke Klenteng Boen Tek Hio, Museum Benteng Heritage, dan Sungai Cisadane tentu saja.

Klenteng Boen Tek Hio ini rasa-rasanya mirip yaaa, dengan Vihara Mahacetya Dhanagun atau yang disebut juga Klenteng Hok Tek Bio, di Suryakencana, Bogor Barat. Vihara ini adalah tempat ibadah bagi tiga aliran kepercayaan Tionghoa yaitu Tao, Budha dan Konghucu.

Klenteng Boen Tek Bio – sumber: tangerangnews.com
Vihara Mahacetya Dhanagun, Bogor – sumber: travel.detik.com

Penulis menggambarkan semua tempat yang dikunjungi tokoh-tokoh dengan sangat baik, sampai-sampai aku tuh serasa ikut ada di sana!

Saat berkunjung ke museum, keempat anak itu bertemu dengan kejadian misterius: hilangnya perkamen tua. Satu kejadian disusul oleh kejadian lain, yaitu naga yang muncul lalu menghilang di Sungai Cisadane, pertemuan dengan lelaki-lelaki mencurigakan, hilangnya perahu naga yang akan diikutsertakan dalam lomba, sampai dengan penculikan!

Apakah Afif, Halim, Gisca, dan Memei dapat memecahkan semua misteri tersebut?

Buku ini asyik dan layak dibaca oleh anak-anak maupun orang dewasa, aka. para orang tua. Ada banyak sekali pelajaran penting yang dapat diambil dari buku ini: tentang kebanggaan terhadap sejarah masa lalu dan leluhur kita, keberagaman etnis dan cara kita menyikapinya, juga nilai-nilai persahabatan dan keberanian. Oh iya, novel ini juga masuk sebagai nominasi Best Children Book di Scarlet Pen Award 2022 lo, keren kaaaan!

Meski demikian, aku menemukan beberapa kekurangan dalam buku ini. Ada typo atau saltik di beberapa tempat, juga kesalahan penulisan nama tokoh Memei, yang kadang ditulis Memey (misalnya di hal. 19) atau Mei Mei (di hal. 43). Ada juga kesalahan PUEBI misalnya penulisan huruf s pada sungai yang diikuti oleh nama sungainya, tidak ditulis oleh huruf kapital (satu contoh di hal. 56).

Ada juga penulisan nama-nama makanan khas warga Tionghoa yang tidak dicetak miring, seperti somay (KBBI: siomai), hakau dan swekiau. Eh, kalau ketemu nama-nama makanan begini, aku langsung deh browsing ha ha ha … Aku selalu penasaran dengan penampilan makanan!

Oh ya, ada satu lagi hal yang menurutku jika diubah akan memberi nilai tambah pada buku: cover buku yang kurang misterius … hi hi hi. Boleh dong yaaa, aku membayangkan jika di cover-nya ada ilustrasi seekor naga yang muncul dari balik kabut, dan empat anak yang menatapnya dengan ekspresi kaget camput ngeri … waaah, bakalan tambah keren deeh.

Overall, aku suka novel Misteri Perahu Naga. Ratenya kuberi … 7.5 / 10 yaaa.

 

Misteri Perahu Naga – Lia Heliana

5 Alasan untuk Membaca Bi! by Fei

 

Judul: Bi! by Fei

Penulis: Fei

Penerbit: Haru

Cetakan Pertama, Februari 2013

280 hlm; 19 cm

 

Buku yang manis ini, yesss … aku bilang manis (dengan mata bulat berbinar-binar) bercerita tentang hubungan persahabatan seorang gadis bernama Min Jeong dan dua temannya, juga tentang peliknya hubungan keluarga yang pahit antara Min Jeong dan ayahnya. Eh, kok kedengerannya kayak masih plain aja, sih? Nah, yuk tambahkan dengan mencemplungkan sesosok dokkaebi ke dalam cerita. Wew … Bi! langsung berubah jadi novel chicklit yang seru!

Ada lima alasan kenapa aku membaca novel ini. Yuk, dikupas satu per satu!

  1. Cover buku yang manisnya pas

Pertama-tama, aku mau jelaskan dulu kenapa aku bilang novel ini manis. Kadang-kadang, aku adalah orang yang menilai a book by its cover, terutama untuk buku-buku yang sama sekali enggak kebayang isinya seperti apa. Dan menurutku cover novel Bi! ini so simple yet soo sweeettt. Nuansa kuning hijau dan ilustrasi satu sisi hanok dan genta angin yang tergantung di bubungannya, duh … cakep banget!

Cover cantik akan menarik minatku untuk membaca isinya.

  1. Jalan cerita yang ringan dan renyah

Aiih … ada ya jalan cerita yang ringan dan renyah macam snack garing-garing fave akuh? Ada lah. Untuk genre selain cerita detektif yang emang mesti mikir, aku sukanya cerita yang ringan dan menghibur.

Jadi siapa Min Jeong ini? Dia adalah seorang gadis usia 20 tahun but not your ordinary kinda girl. Dia punya latar belakang kehidupan yang cukup sulit: ibunya meninggal saat Min Jeong usia sekolah dan tinggal bersama ayah yang suka judi dan mabuk-mabukan. Untungnya gadis ini tidak berlarut-larut dalam kesedihan, tetapi memilih untuk bangkit dan berjuang. Dia enggak berjuang sendirian juga, karena ada dua sahabat baiknya yaitu Hyuk si cowok slengean sahabat baiknya sejak kecil dan Ae Ri, gadis cantik yang juga kesepian.

Saat sedang kebingungan memikirkan harus tinggal di mana (gara-gara ayahnya yang doyan judi dan mabuk-mabukan hingga menghabiskan uang yang ada) tiba-tiba Min Jeong ketiban durian runtuh karena nenek dari pihak ayahnya mewariskan hanok atau rumah tradisional Korea untuk ditinggali. Sahabat ibunya juga menghadiahkan sebuah bel angin kuno. Saat hendak memasang bel angin itu di bubungan hanok, tanpa sengaja Min Jeong malah membebaskan dokkaebi alias roh penghuni benda tua yang telah empat ratus tahun terkurung di dalam bel angin tersebut. Bukan itu saja, Bi si dokkaebi itu juga mengincar Hyuk yang diklaimnya telah mengurungnya dalam bel angin!

Hidup Min Jeong yang sudah rumit, jadi tambah rumit, deh!

3. Nama tokoh yang tidak sulit diingat

Satu hal yang bikin aku suka membaca novel ini adalah aku enggak kerepotan menghafal nama-nama tokohnya. Jujur saja, ini adalah kedua kalinya aku baca novel dengan nuansa Korea. Yang pertama adalah novel anak berjudul Gomawoyo Chef! karya Uni Dian Onasis. Kenapa hanya sedikit sekali? Karena aku bukan hallyu dan buatku, nama-nama tokoh Korea itu sulit dingat dan cenderung ketuker-tuker. Susah juga membedakan yang mana nama milik tokoh perempuan dan yang mana milik tokoh laki-laki *pijat pangkal hidung

Nah, di novel Bi! ini,  aku enggak menemukan kesulitan itu. Mungkin karena tokoh yang ada tidak banyak, dan nama-nama tokoh meski di beberapa bab disebutkan lengkap tiga suku kata, tetapi seringnya hanya disebut dua suku kata tanpa marga, dan ini ternyata sangat membantu … hehe. Apalagi nama Hyuk dan Bi tentu saja, yang hanya terdiri dari satu suku kata, really helpful buat aku yang gampang lupa soal nama.

  1. Konflik yang unik, plot yang rapi dan setting yang tidak biasa

Usaha Min Jeong melindungi Hyuk dari ancaman Bi, membuat gadis itu harus rela Bi tinggal di hanok-nya, ya supaya dia dapat mengawasi Bi tentu saja. Tetapi Bi ini bukan sembarang entitas, dia roh yang cakeupp bin gahoel, cuyy! Kebayang enggak sih, cowok korea yang manis plus suka clubbing dan main game online? Nah, Bi tuh gitu deh.

Novel ini konfliknya unik. Ya iyalah unik kalau udah tentang hubungan antara manusia dan roh. Saat Min Jeong dihadapkan pada situasi sulit gegara Hyuk dan ayahnya, lalu dia harus memilih antara sahabat sejak kecil dan roh usil yang numpang hidup di rumahnya, duuuh … bacanya bikin greget banget, deh!

Plot cerita ini juga rapi. Ada tiga bab di awal, tengah dan akhir yang merupakan flashback, tidak menimbulkan kebingungan saat membaca karena disajikan secara smooth dan memang diperlukan oleh cerita.

Setting Korea juga tampil secara natural dalam cerita. Aku jadi bisa membayangkan kehidupan kaum muda Korea yang penuh kerja keras (dari Min Jeong), kehidupan kelam (dari Young Chul, ayah Min Jeung yang suka mabuk-mabukan di suljib), area Insadong yang ramai, kuliner khas Korea seperti kimbab, patjuk, bungeoppang, dan tentu saja tidak keringgalan soju dan kimchi.

Oh iya, ramainya istilah Korea di novel ini, asyiknya lagi, tidak mengganggu aku, lho. Banyaknya catatan kaki (total ada 79 semuanya) yang menjelaskan arti dari semua istilah asing yang digunakan, menurutku (yang suka pada bahasa asing) justru malah menambah pengetahuan dan wawasan baru.

  1. Ending yang asyik

Jujur aja, aku adalah pembaca yang enggak sabaran. Aku juga, euh … punya kebiasaan jelek yaitu kalau baca cerita romans, suka menjodoh-jodohkan tokoh. Kalau ending cerita engga sesuai dengan keinginanku, euuh … bisa bete, deh! Nah, untuk menghindari bete ini, aku jadi suka nge-cheat dan langsung lompat ke bab akhir *jangan ditiruuu!

Novel Bi! ini mampu membuatku bertahan membaca jalinan ceritanya dari awal sampai akhir, dan ending-nya pun memuaskan ahaha … Aku memahami alasan kenapa si tokoh mengambil tindakan-tindakannya. Ini mesti terjadi karena latar belakang dan penokohan karakter yang cukup baik.

Eh, enggak afdol kalau ngebahas cerita hanya dari sisi positifnya aja. Jujur ada beberapa hal yang bikin aku agak kerut kening saat membaca novel ini.

Yang pertama adalah adanya tokoh pria paruh baya berjaket pink ngejreng. Buat apa dia ada dalam cerita? Kayaknya, kalau dia enggak ada, enggak akan ngaruh banyak juga deh, ke cerita.

Yang kedua, adalah banyaknya hal yang baru kuketahui dalam cerita ini, yang membuatku ingin scrolling dan browsing, terutama kalau terkait makanan ya ha ha ha … Aku kan bukan hallyu yang sudah terbiasa dengan segala hal yang berbau Korea, jadi aku pengin tahu perbentukan kyarenmali dan maeuntang itu kayak gimana, hi hi hi. Tapi hal ini enggak terlalu menjeda waktu baca aku, sih.  Menyelesaikan 276 halaman dalam waktu tiga hari adalah lumayan cepat buat aku yang ibu rumah tangga sok sibuk ini ha ha ha …

Overall, aku suka baca Bi! Novel romans ini cocok banget menemani waktu luangku. Rate-nya, bolehlah kuberi 7.5/10!

Kamu sudah pernah baca novel Bi! ini? Yuk, share kesan-kesan kamu di kolom komentar 🙂

Tinjauan Buku dan Semua Hal Tentang Menulis!

Hai, aku Astrid Prasetya.

Menulis adalah duniaku sekarang. Ini adalah blog untuk tinjauan buku yang pernah kubaca dan  semua hal tentang ilmu kepenulisan yang kutahu. Semoga bermanfaat sebagai pengingat untuk diri sendiri, dan jika orang lain dapat mengambil manfaat juga, alhamdulillah.

Feel free to read and comment and share, but please share the link and not the content 🙂 I take no responsibility for any loses caused by misuse of some part of my writings.

Be a responsible reader and always do check and re-check 🙂